Showing posts with label Published on Harian Surya. Show all posts
Showing posts with label Published on Harian Surya. Show all posts

Monday, March 10, 2008

Me on Surya Newspaper - today edition (O-week @ UNSW)

This is the fruit of my labor, for being a spectator of Orientation Week a.k.a O-Week for a whole week at UNSW.

It was a good experience, very entertaining event.

For full story published on koran Surya - Surabaya today, just click here.


Tuesday, January 15, 2008

Boxing Day (bag 2) : Sudah Pernah Kalap Belanja

Dimuat di harian SURYA - Surabaya, 28 Desember 2007
Esok paginya, 27 Desember, jam masih menunjukkan pukul 06.00 ketika saya sudah siap dan rapi. Saya sengaja pergi sendiri, nggak menghubungi teman saya, karena selain nggak enak hati -kemarin bilang nggak mau kok sekarang jalan- juga saya paling malas kalau mau cari barang saja pakai tunggu-tungguan. Siapa tahu beda selera. Daripada teman saya mau kemana saya mau kemana, lebih baik saya pergi sendiri.
Pukul 06.15 saya sudah duduk manis di halte bus yang nggak jauh dari rumah saya. Masih cukup waktu, pikir saya. Jadi kira-kira sebelum pukul 07.00 sudah sampai di toko. Siapa tahu masih kebagian barang promosi dari toko. Di departemen store terbesar di city yang saya tuju ini, 500 pengunjung pertama bisa dapat kesempatan beli celana jeans Levis seharga 1 dolar Australia atau DVD Player seharga 50 dolar Australia. Kan lumayan, bisa untuk oleh-oleh buat suami.
Tunggu punya tunggu, 10 menit berlalu, kok nggak ada satu pun bus yang nongol. Sementara orang yang datang menunggu di halte makin banyak dan tampaknya semua satu tujuan. Sudah 20 menit berlalu, tetap tidak ada bus yang datang. Saya hitung lagi, 25 menit berlalu, barulah satu bus datang dan langsung diserbu oleh semua orang yang menunggu di halte. Saya mulai was-was, kayaknya nggak sampai nih, target waktu meleset. Bisa-bisa sampai di city pukul 07.00 lewat. Setengah berdoa saya berharap supaya nggak banyak orang menyetop bus yang saya naiki, supaya lancar wes ewes ewes langsung sampai tujuan. Tetapi tampaknya doa dan harapan saya nggak terkabul, karena di setiap halte pasti ada yang melambaikan tangan, tambah penumpang lagi, sampai bis penuh sesak.
Akhirnya, sampai juga saya di tujuan. Pukul 07.00 kurang satu menit. Setengah berlari saya menuju departemen store besar itu. Tetapi alamak... yang namanya orang ngantre di depan gerbang yang sedang dalam proses dibuka, tampaknya lebih dari 500 orang. Mungkin malah sampai 1.000 orang. Hilang sudah harapan dapat jeans Levis 1 dolar Australia. Setengah nekat, saya ikut dalam arus orang yang sedang mengantre. Tanggung, sudah sampai tujuan, sekalian nyebur saja.
Barang yang di-sale memang membuat mata terbelalak. Betapa tidak, baju-baju kaus yang selama ini seharga 25 dolar, bisa dibeli dengan harga setengahnya. Handuk kualitas terbaik, turun harga sampai 70 persen. Pantas saja orang rela berdesak-desakan dari pagi. Ternyata mereka sejak pukul 06.00 sudah antre di depan pintu, supaya dapat barang murah dan tetap bermutu.Nggak terasa, lima jam sudah saya menghabiskan waktu keliling dari lantai satu sampai lantai enam. Kaki rasanya sudah pegal karena mau membayar pun antrenya di kasir luar biasa.
”My feet is killing me....” Beberapa kali saya dengar orang berkata seperti itu. Mungkin kakinya sudah sepegal kaki saya. Bahu dan pundak juga sudah ikutan protes karena tanpa sadar saya sudah ikut kalap memborong barang-barang, mulai dari seprei sampai handuk, baju sampai mainan anak, bahkan piring makan. Maklum, nggak tahan melihat harga yang gila-gilaan itu.
Sambil menahan pegal, saya berdiri di halte bus, siap menunggu bus untuk pulang. Tiba-tiba....
”Lhoooo... mbak... kok jalan juga. Katanya males.”
Suara yang saya sangat kenal tahu-tahu mampir di telinga. Dengan sedikit malu hati saya sapa teman saya itu. Rupanya dia senasib dengan saya, terdampar di halte menunggu bus jurusan yang sama.
Sambil ngobrol, diam-diam saya lirik tas yang ditenteng teman saya. Kok cuma satu tas ya, pikir saya. Seolah mengerti apa yang saya pikirkan, teman saya berkomentar, ”Saya juga sudah pernah kalap kok Mbak, tahun lalu. Jadi nggak usah merasa nggak enak meliat saya hanya bawa satu tas kecil.” Kali ini saya malu beneran.

Boxing Day (bag 1) - Tak Ada Hubungannya dengan Tinju

Dimuat di harian SURYA - Surabaya, Kamis 27 Desember 2007

Pengalaman menggelikan ini terjadi empat tahun yang lalu, ketika saya masih menjadi warga baru kota Sydney. Dan setiap kali mendekati Natal, saya selalu teringat kembali akan hal ini.Pertanyaan memenuhi benak saya ketika ada yang menawarkan ajakan. “Mbak, mau ikutan nyerbu Boxing Day, nggak?” Pertanyaan dari teman saya yang sudah hampir dua tahun bermukim di Sydney, serta merta membuat kening saya berkerut. Nyerbu? Boxing Day?”
Memang ada apa di Boxing Day? Pertandingan tinju?” saya balik bertanya, dan terlintas di benak saya kartu pos yang saya beli di kantor pos beberapa minggu yang lalu, yang bergambar kanguru mengenakan sarung tinju dan berpose seakan siap-siap menjatuhkan lawan.“Kok tinju sih… belanja lagi. Masak nggak tahu sih?” kata teman saya lagi.Terlintas lagi gambar si Boxing Kanguru di benak saya. Belanja? ”Yaaah, kok bengong sih!” seru teman saya membuyarkan lamunan. ”Yang namanya Boxing Day itu sama dengan hari belanja. Pada hari itu, semua barang di toko-toko besar akan didiskon sampai 70 persen%.”
Oalah, rupanya yang namanya Boxing Day itu sama sekali nggak ada hubungannya dengan si Boxing Kanguru. Ternyata ada hari spesial untuk belanja, yang disebut Boxing Day (dari kata box = kotak, jauuuuh dari urusan tinju-meninju) yang diadakan tiap tanggal 26 atau 27 Desember setiap tahunnya. Pada hari itu katanya semua barang di toko-toko besar baik yang sebelumnya sudah didiskon untuk menyambut Natal, maupun barang yang masih dengan harga asli, semua turun harga. Ini bisa bervariasi antara 10 persen sampai 50 persen, bahkan ada yang sampai 70 persen. Mulai dari mainan anak sampai alat elektronik, dari baju segala umur sampai alat dapur, semua bakal didiskon. Dan Boxing Day yang sering juga disebut Post-Christmas Sale ternyata ditunggu semua orang.
”Jadi, mau berangkat nggak? Saya mau ke sana lho tetapi kalau mau dapat barang yang bagus, ya kita harus berangkat pagi. Soalnya salah satu departemen store yang paling besar di city dan koleksinya paling lengkap itu, buka pukul 07.00. Itu aja orang sudah pada ngantre. Jadi, kalo mau, kita berangkat pukul 5.30 ya.” Begitu penjelasan teman saya, panjang lebar dan penuh semangat.
Alamak, pukul 5.30? Nggak salah tuh. Karena memang tempat tinggal kami ada di pinggiran kota, maka memang perlu waktu sekitar 30 menit untuk naik bus ke city. Tetapi kalau pukul 06.00 sudah mulai antre, kayaknya kok maksa ya.
”Ya, nanti saya kabarin kalo saya mau ikut,” kata saya.
Tanggal 24 Desember tiba-tiba saya membaca di koran kalau tahun ini Boxing Day diundur satu hari. Tidak tanggal 26 Desember seperti biasa, tetapi jadi 27 Desember , dengan alasan toko-toko ingin memberikan libur yang cukup untuk karyawannya, setelah seminggu sebelum Natal mereka kewalahan diserbu orang yang belanja. Saya sempat teringat untuk menelepon teman saya, sekadar memberi tahu, Boxing Day mundur sehari. Tetapi namanya saja emak-emak, urusan PR alias pekerjaan rumah tangga yang nggak ada habisnya membuat saya lupa niatan untuk menelepon teman saya.Dan tiba-tiba tanggal 26 Desember siang, saat saya sedang santai di rumah, teman saya menelepon dengan hebohnya.
”Tahu nggak Mbak, ternyata Boxing Day diundur sehari.”
”Emang iya,” jawab saya santai.
”Lho, Mbak tahu ya. Tadi pagi saya sudah semangat 45 nunggu bus pukul 05.30. Terus, iseng-iseng ngobrol sama bapak-bapak yang lagi nunggu bus juga. Mereka tertawa saat saya bilang mau hunting barang di Boxing Day. Lha wong acaranya diundur. Malu aku. Pokoknya besok saya harus balas dendam belanja banyak-banyak.”
Rupanya teman saya masih sibuk memprovokasi saya untuk bergabung. Tampaknya dia nggak mau pergi sendirian juga.
”Kayaknya nggak deh, males kalau terlalu pagi, kasihan anak, kalau saya pagi-pagi sudah ngilang,” jawab saya.
”Bener nih, jangan sampai nyesel lho ya.”
Kata-kata terakhir dari teman saya ternyata manjur dan nempel terus di kepala. Saat saya menceritakan pembicaraan saya dengan teman tadi ke suami, suami saya malah mendukung untuk pergi pagi-pagi. Bahkan suami bersedia menjaga anak selama saya pergi. Siapa tahu bisa dapat barang bagus dengan harga murah. Wah, dapat lampu hijau....
(continued...)

Monday, November 19, 2007

Kurir: Dijamin Sampai dengan Selamat

Sudah jamak di kalangan perantau asal Indonesia di luar negeri, terutama pelajar, untuk menjadi kurir bagi yang lain setiap pulang ke Indonesia. Tugas kurir semakin berat jika pulang ke Indonesia bukan karena selesai sekolah, tetapi untuk menengok keluarga atau mencari materi penelitian. Itu berarti sang kurir akan mendapat titipan dari kedua belah pihak, baik dari yang sedang sekolah, maupun keluarga di tanah air, yang ingin mengirimkan sesuatu kepada yang jauh di negeri seberang.Bang Yos -yang nggak ada hubungan sama sekali dengan Sutiyoso mantan Gubernur DKI- adalah salah satu dari sekian banyak kurir yang kami kenal di sini. Kebetulan (atau sialnya) Bang Yos kuliah selama empat tahun di Australia. Setiap tahun adaaaa saja yang mengharuskan dia mondar-mandir ke Indonesia.Kalau bukan urusan mencari data penelitian, ada saja masalah keluarga yang harus diselesaikan dengan terbang ke Indonesia. Kerepotan Bang Yos adalah 'berkah' untuk pelajar yang lain. Daripada kirim barang lewat pos, sudah mahal, waktu sampainya bisa lama pula, lebih baik lewat Bang Yos. Dijamin sampai, biaya kirim bisa diatur pakai dolar atau rupiah nggak masalah. Dan Bang Yos sendiri urang awak yang suka nggak enak hati menolak titipan.
Keterkenalan Bang Yos nggak hanya di kalangan pelajar yang satu angkatan atau angkatan di bawahnya, tetapi menyebar pula sampai kalangan junior yang tiga tahun di bawahnya. Bahkan sampai yang beda universitas. Pernah seorang student memohon-mohon Bang Yos untuk bersedia mengangkut titipannya yang nggak kira-kira banyaknya. Hampir sekoper kecil ukuran dua kali kardus Indomie. Bang Yos cuma garuk-garuk kepala. Bingung, mau nolak nggak enak, mau diterima kok banyak. Akhirnya dia mencoba mencari alasan kalau jatah bagasinya pas-pasan. Eh, si anak memaksa dengan risiko dia yang bayar biaya kelebihan bagasi kalau Bang Yos kena denda. Dia bahkan memaksa Bang Yos naik taksi ke bandara, daripada naik bus seperti biasanya. Dia menanggung biaya taksi. Bang Yos nggak bisa berkutik. Tetapi bukan Bang Yos namanya kalau nggak bisa melihat sisi baik dari setiap peristiwa. Kapan lagi ke bandara naik taksi, santai, dibayari pula.
Lain lagi ceritanya ketika Bang Yos dimintai tolong orang tua Yuli. Detik terakhir Bang Yos akan kembali ke Sydney, mereka datang ke rumah Bang Yos di Padang sambil membawa tas plastik besar berisi kerupuk kulit khas Padang. Katanya itu makanan favorit Yuli. Bang Yos bingung bukan kepalang. Kali ini bukan masalah bagasi, tetapi membawa makanan masuk ke Australia, apalagi dengan kemasan sederhana sama saja bunuh diri. Bang Yos berusaha menjelaskan mengenai ketatnya peraturan pemerintah Australia mengenai makanan yang boleh masuk, namun mereka tetap memohon. Akhirnya Bang Yos mengiyakan, namun kerupuknya nggak dibawa. Begitu mendarat di Sydney, dia mampir dulu ke restoran Padang di dekat kawasan kami tinggal, beli kerupuk pengganti. Beres. Yuli sampai geleng-geleng kepala mendengar cerita Bang Yos. "Aku nggak tega Yul. Orang tua kamu sudah begitu mikirin kamu, sampai ke kerupuk segala, makanya bagaimanapun kamu harus terima kerupuknya."
Suatu kali, si abang tiba-tiba bikin pengumuman mendadak di milis kami. "Dua hari lagi saya mau pulang Indonesia selama dua minggu. Urusan keluarga mendadak, jadi kalau mau nitip, kali ini saya terima titipan surat saja, bukan barang." Teman kami Irina dan Dewi yang tinggal serumah di gedung sebelah, langsung menelepon Bang Yos, untuk daftar. Sampai pada waktunya, semua lancar. Surat sudah diserahkan ke Bang Yos, beserta biaya kirim dari Padang ke Jakarta dan Surabaya. Seminggu kemudian terjadi kehebohan. Ternyata, saat membungkus ulang surat itu untuk dikirim ke Surabaya dan Jakarta, Bang Yos keliru mengirimkan. Surat dari Dewi dikirim ke suami Irina. Dan surat dari Irina terkirim ke pacar Dewi. Celakanya, Dewi paling rajin mengirim surat dengan puisi yang melankolis untuk pacarnya. Lebih seru lagi ternyata Irina mengirim beberapa foto diri yang cukup syur untuk suaminya sebagai pengobat rindu selama jauh berpisah dengan sang istri.
Kalau sudah begini apa Bang Yos bisa disalahkan?
----------------------------------------------------------------------------------------
Dimuat di Harian Surya-Surabaya , Kamis 8 Nov 2007

Saturday, October 20, 2007

GREETING CARD


I found a nice surprise on my post box this morning: a greeting card from Indonesia. From my mom uncle. It’s Ied Mubarak Card. Kartu Lebaran. This is the first card I have received this year. And maybe the only one.

This card flies me back to my childhood memories. My very first memory about Ied card it’s when my mom brought me to Kantor Pos Besar aka General Post Office to bought some cards. I was 7 years old. At that time, not many dept store or bookshop around, so GPO veranda was full of cards seller.

When I was on year 5, I asked my mom if I can help her to make our own greeting card. My mom gave me opportunity to do so, and its boost my confidence of my art skill. It keeps going until I was on the High School and College. Every year, I come up with new idea about the card. And the list of recipients growing bigger and bigger. There was some time that I sacrificed my bed time after sahur, just to finish the cards. Cost me my pocket money, for all of the papers, envelopes and stamps. But you can’t buy the pleasure feeling. I always had mixed feeling, exhausted, happy, joy, after my project complete.

My ‘best performance’ was when I’m on year 11 –High School- with 230cards in total. All of my money gone for stamps. So, the following year, I decided to handed-out my cards to my classmate, in order to save the stamps. Some friends weren’t happy, because they loved to get the card by post instead.

I did design all of the cards myself. One design goes wrong when I tried to use plastic as an envelope, and this card beautifully see-through. Post Office wasn’t happy, though. They can’t stamp it, because this silly plastic just ruined the ink. So, I got an ‘invitation’ letter from Post Office, saying that I had to come and replace all of the plastic cover with normal envelope, or they won’t send it. I was disappointed at that time. What is the point, covering this beautiful design with envelope? I did not intend to use the envelope at the first place anyway. But I had no choice. Rather than send all of the cards my self all around the City and even all around the State, I placed the card into envelope. And re-address. And re-send.

Since technology overtaking human life, and E-mail or Short Message Service is easy option to greet, I never received any cards. I felt lost. I still made some cards, send it to family and closets friend. But I can’t help myself not to reply all of greeting through SMS and E-mail. I tried to be polite. Even when I feel I lost the human touch.

This year, weeks ago, when I was still thinking about either yes or not to make my own cards as before (I have to admitted, bit hard for me to sneak quietly on my desk doing some cards when there are 2 kids need 100% attention) I got an e-mail from old friend from High School. She asked me if she still on the recipients list –which she hope so- and she asked a sneak preview of my newest design. She mentions about his first card from me, about 20 years ago, and she still keeps all of the cards that I send to her in 20 years. Yes, 20 years, 20 Eid, 20 different designs of handmade greeting cards. It surprised me. I never though that it’s been 20 years I made my own card.

Her e-mail put me back on the track. I suddenly felt of adrenalin rush and paint new design on my mind.

It’s felt different when I open the card from my mom’s uncle. I’m feeling the connection. I felt the joy that I’ve loosing it. I felt touched.

Happy Eid Mubarak. Send me card next Ied. Please…

Wednesday, October 10, 2007

Ganti Musim, Ganti Baju, Menadah Limpahan Baju

Setiap pergantian musim disini, saya punya satu pekerjaan tambahan. Mengeluarkan baju-baju dari lemari, memasukkan ke dalam box dan mengisi lemari dengan baju yang akan dipakai musim berikutnya. Nampaknya sepele, tapi terkadang memakan waktu lebih dari satu hari.
Seperti saat ini, Sydney mulai masuk ke musim semi. Saatnya untuk bongkar-bongkar baju-baju yang lebih tipis untuk musim semi dan musim panas. Saatnya pula untuk menyimpan baju-baju tebal sisa musim gugur dan musim dingin. Ibu saya pernah bertanya, kenapa kok repot-repot amat, hampir tiap enam bulan bongkar-bongkar lemari. Pertanyaan Ibu terjawab saat beliau berkunjung kemari.Tanpa harus saya jelaskan, beliau melihat sendiri, apartemen kami yang sangat mungil -kalau di Indonesia setara dengan rumah tipe 21- hanya mampu memuat satu buah lemari ukuran sedang di setiap kamar, yang harus dibagi untuk kami berempat. Garasi membantu memecahkan masalah. Baju yang sementara tidak dipakai kami masukkan dalam box, lalu disimpan di garasi.
Acara bongkar membongkar menjadi lebih panjang, karena saya manfaatkan sekaligus untuk menyortir baju-baju yang tidak terpakai. Dipakai hampir setiap hari selama enam bulan, membuat sweater baru langsung terlihat tua dan uzur.Dan sudah saatnya di-alokasikan ke tempat lain. Di sini, ada dua yayasan besar yang menampung pakaian-pakaian bekas yang sudah tidak kita pakai namun masih layak pakai. Daripada dibuang begitu saja, seringkali kami kirimkan ke yayasan tersebut, untuk di-daur ulang, dijual lagi di toko mereka, dengan harga sangat minimal.Terkadang juga saya simpan baju-baju tidak terpakai tersebut, untuk dikirim ke Indonesia saat ada kesempatan. Ada si mbak dan suaminya yang menjaga Nenek yang selalu gembira menjadi penampung baju-baju kiriman. Sayangnya, baju musim dingin biasanya tidak bisa kami kirim, nggak sesuailah dengan cuaca Indonesia yang panas. Yang ada, yang dikirimi malah mandi keringat pakai baju musim dingin.
Namun untuk baju anak-anak, kami sudah punya penadah tetap. Ada teman yang punya anak berumur lebih muda dari anak kami yang siap menampung segala limpahan baju anak-anak yang sudah sempit. Daripada beli baju baru, begitu katanya. Selama kondisi masih bagus, tidak jadi masalah. Dan kami pun jadi 'penadah' baju anak dari teman yang lain yang anaknya lebih tua dari anak kami. Win-win solution. Tidak ada yang terbuang percuma.
Hal lain yang membuat saya semangat saat pergantian musim, adalah berburu diskon baju baru. Saat ini, baju dari musim dingin kemarin, sudah didiskon habis-habisan sampai hampir 75%. Kalau pandai memilih baju yang berpotongan biasa, yang tidak terlalu mengikuti trend, maka bisa diperoleh baju untuk winter tahun depan, yang bisa disimpan dulu sampai saatnya tiba.Terutama baju anak-anak, kadang saya serasa 'kalap' melihat stok baju winter yang dibanting super murah tersebut. Anak-anak kan nggak terlalu mengikuti trend seperti dewasa, nggak ada masalah baju tahun ini dipakai tahun depan. Kalau beli 1 ukuran lebih besar, tahun depannya biasanya baju tersebut sudah pas.
Hidup di negeri orang ternyata memaksa saya untuk lebih rajin, hemat, dan kreatif.
(Dimuat di Harian Surya-Surabaya, Rabu 10 Okt 2007)
Related Posts with Thumbnails